Jumat, 22 Februari 2013

Daftar gunung di Indonesia menurut lokasi

Daftar isi

Daftar gunung di Papua

Gunung di Papua

Pegunungan di Papua

Daftar gunung di Kalimantan

Gunung di Kalimantan

Pegunungan di Kalimantan

Daftar gunung di Sulawesi

Gunung di Sulawesi

Daftar gunung di Sumatera

Gunung di Sumatera

Pegunungan di Sumatera

Daftar gunung di Bali & Nusa Tenggara

Gunung di Bali & Nusa Tenggara


Daftar gunung di Jawa

Gunung di Jawa

Pegunungan di Jawa

Sekilas Universitas Kristen Papua

Papua adalah sebuah propinsi di Indonesia yang terletak di belahan barat pulau Irian dan pulau-pulau di  sekitarnya. Papua juga kadang dipanggil sebagai Papua Barat karena Papua  bisa merujuk kepada seluruh  pulau Irian atau belahan selatan negara tetangga, Papua New  Guinea. Papua Barat adalah sebutan yang lebih disukai para nasionalis yang ingin  memisahkan diri daripada Indonesia dan  membentuk negara sendiri. Propinsi ini dulu   dikenal dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya kemudian  diganti menjadi Irian Jaya oleh Suharto, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga  tahun 2002. Nama propinsi ini diganti menjadi 'Papua' sesuai UU No 21/2001 Otonomi  Khusus Papua. Pada masa era kolonial, daerah ini disebut Nugini Belanda (Dutch New Guinea).

Papua merupakan Propinsi yang terletak di wilayah paling timur negara Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan. Daerahnya belum banyak dirambah aktivitas manusia dan kaya akan sumber daya alam yang menyajikan peluang untuk berbisnis dan berkembang. Tanahnya yang luas dipenuhi oleh hutan, laut dan beragam biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang cocok untuk tanah pertanian. Didalam buminya, Papua juga menyimpan gas alam, minyak dan aneka bahan tambang lainnya yang siap menunggu untuk diolah.

Pemerintahan
Propinsi Papua Beribu kota di Jayapura dan secara administrasi terdiri dari : 9 Pemerintahan Kabupaten iaitu Kabupaten Jayapura, Jayawijaya, Merauke, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Biak Numfor, Yapen Waropen dan Nabire. Dua Pemerintahan Kota iaitu Kota Jayapura dan Kota Sorong, tiga Pemerintahan Kabupaten Administratif yaitu Puncak Jaya, Paniai dan Mimika. Jumlah Kecamatan di Papua adalah 173 kecamatan yang mencakup 2.712 desa dan 91 kelurahan.

Geografi
Papua terletak pada posisi 0° 19' - 10° 45' LS dan 130° 45' - 141° 48' BT, menempati setengah bagian barat dari Papua New Guinea yang merupakan pulau terbesar kedua daripada Greenland. Secara fisik, Papua merupakan Propinsi terluas di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari total tanah seluruh Indonesia iaitu 421.981 km2, membujur dari barat ke timur (Sorong - Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 mile) dan dari utara ke selatan (Jayapura- Merauke) sepanjang 736 km (456 mile). Selain tanah yang luas, Papua juga memiliki banyak pulau yang menempati sepanjang pesisirnya. Dipesisir utara terdapat pulau Biak, Numfor, Yapen dan Mapia. Disebelah barat pulau Salawati, Batanta, Gag, Waigeo dan Yefman. Dipesisir Selatan terdapat pulau Kalepon, Komoran, Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan Papua New Guinea.

Iklim
Papua terletak tepat di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun karena daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Di daerah pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 - 7.500 mm pertahun. Curah hujan tertinggi terjadi dipesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara bervariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan ketinggian 100 m ( 900 feet ), secara rata-rata suhu akan menurun 0,6°C.

Topografi
Keadaan topografi Papua bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipadati dengan hutan hujan tropis, padang rumput dan lembah dengan alang- alangnya. Dibagian tengah berjejer rangkaian pegunungan tinggi sepanjang 650 km. Salah satu bagian dari pegunungan tersebut adalah pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena disana terdapat tiga puncak tertinggi yang walaupun terletak didekat khatulistiwa namun selalu diselimuti oleh salju abadi iaitu puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030m (15.090 ft), puncak Trikora 5.160 m (15.480 ft) dan puncak Yamin 5.100 m (15.300 ft). Sungai-sungai besar beserta anak sungainya mengalir ke arah selatan dan utara. Sungai Digul yang bermula dari pedalaman kabupaten Merauke mengalir ke Laut Arafura. Sungai Warenai, Wagona dan Mamberamo yang melewati Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Jayapura bermuara di Samudera Pasifik. Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting bagi masyarakat sepanjang alirannya baik sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari, sebagai penyedia ikan mahupun sebagai sarana penghubung ke daerah luar. Selain itu terdapat pula beberapa danau, diantaranya yang terkenal adalah Danau Sentani di Jayapura, Danau Yamur, Danau Tigi dan Danau Paniai di Kabupaten Nabire dan Paniai.

Sosial Budaya
Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadat nya maka sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu: penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan. Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana. Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.

Bahasa
Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Keaneka ragaman bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh karena itu Bahasa Indonesia lah yang digunakan secara rasmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman.

Agama
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama, Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Mayoriti penduduk Papua beragama Kristian, namun demikian, sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak misionaris baik asing mahupun Indonesia yang melakukan misi keagamaannya di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka berperan penting dalam membantu masyarakat baik melalui sekolah-sekolah misionaris, pengobatan-pengobatan mahupun secara langsung mendidik masyarakat pedalamandalam bidang pertanian, mengajar Bahasa Indonesia mahupun pengetahuan-pengetahuan praktis lainnya. Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.

Menginang, Membangun Persaudaraan di Papua
Jangan heran ketika orang Papua tertawa lebar, giginya tampak berwarna hitam kemerahan. Hal itu bukan pertanda mereka kurang merawat gigi, tetapi karena kebiasaan menginang (makan pinang) sejak remaja. Orang Papua memiliki tradisi menginang. Tradisi yang tak mengenal kelas ini ternyata memiliki nilai kekeluargaan dan kebebasan berekspresi.
Tradisi menginang memiliki satu nilai persaudaraan sangat kuat, dengan rasa sosialitas yang tinggi, dan tidak dapat digantikan dengan benda jenis apa pun. Sebab, menginang tidak hanya dilakukan kaum pria, tetapi juga wanita, termasuk anak-anak remaja. Di Papua tidak ada tradisi mengisap rokok dengan bahan baku tradisional, seperti di daerah lain, kecuali menginang.

Di setiap pertemuan formal atau nonformal menginang wajib dilakukan oleh peserta pertemuan, terutama para tetua adat. Tidak menginang berarti bukan "anak adat". Karena itulah, para tetua adat yang datang ke suatu acara selalu membawa sirih, pinang, dan kapur. Sebab, dalam kesempatan seperti itu bakal ada acara saling menawarkan sirih pinang dan abu kapur, meski penyelenggara acara menyediakan sirih dan pinang.

Pada tahun 1930-an seorang pendatang dinilai memiliki moral dan etika jika dia mampu mengunyah pinang, sirih, dan abu kapur yang ditawarkan kepala suku. Menolak tawaran memakan pinang berarti menolak adat, sekaligus menolak keberadaan masyarakat asli tersebut. Namun, tradisi itu mulai hilang setelah semakin banyak warga pendatang yang masuk ke Papua.
Menginang merupakan alat membangun persaudaraan, sarana komunikasi, bahan dialog dan diskusi, menjamu tamu, serta mengambil keputusan dalam adat. Ketika salah satu peserta dialog bicara dengan nada tinggi dan emosional, orang di sekitarnya langsung menyuguhkan sirih pinang dan abu kapur di hadapannya untuk mengunyah dengan maksud meredam emosi orang itu.

Orang dinilai beretika atau orang Papua sering menyebut sebagai "anak adat" kalau dia sering menawarkan sirih dan pinang kepada orang lain. Mereka menjadikan sirih dan pinang sebagai sarana komunikasi dalam pergaulan dan bersosialisasi dengan lingkungan di mana ia berada.
Menginang memiliki nilai kesamaan budaya, serta rasa senasib dan sependeritaan. Dalam melakukan musyawarah adat, tradisi menginang lazim mengawali pertemuan. Orang tidak akan berbicara jika semua peserta belum menginang atau belum ada bahan untuk menginang di tempat pertemuan.

Karena itu, tak perlu heran jika setiap ada pertemuan 2-3 orang Papua, di situ ada acara menginang. Sambil menginang orang-orang itu akan bercerita dengan santai, berdiskusi, bahkan berceramah, atau mengajar di depan kelas. Para pegawai negeri sipil atau pejabat daerah tak jarang terlihat menyimpan buah pinang, sirih, dan kapur di dalam saku celana atau tasnya.

Saat menginang, warna merah dari sirih pinang juga sering mengalir sampai ke dagu dan meleleh di bagian bibir bawah penginang, bahkan meleleh sampai ke bagian baju mereka. Satu hal yang agak memprihatinkan, tidak semua penginang menjaga kebersihan lingkungan. Di mana ada kerumunan masyarakat atau konsentrasi warga, bisa dipastikan di sana ada lantai, bangunan, dan benda-benda yang bernoda kemerah-merahan akibat ludah para penginang.
Karena itu, di beberapa kantor pemerintah daerah sering disimpan sebuah palungan, pot, ember, dan bejana lain yang di dalamnya berisi tanah, sebagai tempat untuk membuang kunyahan sirih dan pinang. Di ruang tunggu Bandar Udara Sentani, Jayapura, dibuat tulisan besar yang menyebutkan di ruangan itu dilarang menginang.

perekonomian papua

perekonomian papua


Secara keseluruhan perekonomian Papua tahun 2008 – 2009 menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan  ekonomi Papua tahun 2009 diperkirakan sebesar 21,43 %, meningkat dari tahun 2008 yang tercatat kontraksi -0,91%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tanpa tambang diperkirakan mencapai 11,03%. Hal ini dikemukakan Kepala BPS Papua Jarot Sutanto didampingi Kabid Neraca wilayah dan analisis statistic BPS Papua, Eko Mardiana dan Kabid Statistik Distributor Adriana Helena Kardina dalam jumpa pers BPS Papua kemarin sore Senin (4/1).
Sedangkan nilai Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) tahun 2009 diperkirakan mencapai Rp. 67,96 triliun, mengalami peningkatan sebesar 24 % dan tahun 2008 yang mencapai nilai tambah Rp. 54,78 triliun. Sementara nilai PDRB tanpa tambang sebesar Rp. 26,11 triliun meningkat 18 % dari tahun 2008 mencapai Rp. 22,08 triliun. “Secara sektoral pertumbuhan ekonomi tertinggi ditunjukkan oleh sector keuangan persewaan dan jasa perusahaan. Tahun 2009 adalah diperkirakan tumbuh sebesar 40,78 %, meningkat dari tahun 2008 yang tumbuh 15,31%,”katanya.
Dimana terjadi peningkatan perekonomian dari sector perbankan dimana marak dibukanya bank – bank baru di Papua, sehingga terjadi peningkatan pada jasa perbankan. Bahkan untuk triwulan keempat bulan Oktober 2009 mengalami peningkatan dua kali lipat yakni Rp. 455 milliar. Bahkan untuk pendapatan bunga mencapai Rp. 1 triliun. Sementara untuk ekspor Papua, khusus dibulan Oktober 2009, Papua mengalami penurunan nilai ekspor 30,96% dibandingkan nilai ekspor bulan sebelumnya yaitu 454,22 juta US$ menjadi 313,58 juta US$. Penurunan ini disebabkan turunnya harga konsentrat bijih tembaga (HS 26). Selain itu juga nilai harga produksi yang dibuat dengan harga tinggi dan dihitung kandungan tembaga dan emasnya, ikut pula berpengaruh.
Namun secara keseluruhan ekspor Papua pada kumulatif Januari – Oktober 2009 senilai 3.218.06 juta US$ atau naik hingga 48,82% dibandingkan nilainya pada Januari – Oktober 2009 yang tercatat hanya 2.162,41 juta US$. Dengan nilai ekspor tertinggi masih pada bijih tembaga dan konsentrat sedangkan sisanya adalah eksport ikan dan hewan air lainnya (HS03) yang
hanya terdiri atas kepiting hidup.


tentang papua

Seni dan Budaya Papua Indonesia 

Budaya Papua Seni Kebudayaan Tradisional Daerah Papua Indonesia - Provinsi Papua yang terletak di ujung timur negara Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang unik dan menarik. Yuk, kita kenal kebudayaan Papua sebagai salah satu kekayaan budaya indonesia seperti alat musik tradisionalnya, Tarian Tradisional dan kesenian lainnya yang terdapat di Papua. Baca juga tempat wisata di Papua

Seni dan Budaya Papua Indonesia

Alat Musik Tradisional Papua
Ada Salah satu nama alat musik tradisional yang paling terkenal yang berasal dari Papua yaitu Tifa. Alat musik Tifa merupakan alat musik tradisional yang berasal dari daerah maluku serta papua. Bentuknya alat musik Tifa mirip gendang dan cara memainkannya Tifa adalah dengan cara dipukul. Alat musik Tifa terbuat dari bahan sebatang kayu yang isinya sudah dikosongkan serta pada salah satu ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit hewan rusa yang terlebih dulu dikeringkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Alat musik ini sering di mainkan sebagai istrumen musik tradisional dan sering juga dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. 

Tarian Tradisional Daerah Papua
Terdapat berbagai macam tari-tarian dan mereka biasa menyebutnya dengan Yosim Pancar (YOSPAN). Di dalam tarian ini terdapat aneka bentuk gerak tarian seperti tari Gale-gale, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo, tari Balada serta tari Cendrawasih. Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam berbagai kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat, penyambutan para turis asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah dalam upacara adat. 


Pakaian Adat Tradisional Papua
Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat tersebuta memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. 

Rumah Adat Papua
Nama rumah asli Papua adalah Honai yaitu rumah khas asli Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Bahan untuk membuat rumah Honai dari kayu dengan dan atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak berjendela. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan. 

 Budaya Papua Seni Kebudayaan Tradisional Daerah Papua Indonesia - Provinsi Papua yang terletak di ujung timur negara Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang unik dan menarik. Yuk, kita kenal kebudayaan Papua sebagai salah satu kekayaan budaya indonesia seperti alat musik tradisionalnya, Tarian Tradisional dan kesenian lainnya yang terdapat di Papua. Baca juga tempat wisata di Papua

Seni dan Budaya Papua Indonesia

Alat Musik Tradisional Papua
Ada Salah satu nama alat musik tradisional yang paling terkenal yang berasal dari Papua yaitu Tifa. Alat musik Tifa merupakan alat musik tradisional yang berasal dari daerah maluku serta papua. Bentuknya alat musik Tifa mirip gendang dan cara memainkannya Tifa adalah dengan cara dipukul. Alat musik Tifa terbuat dari bahan sebatang kayu yang isinya sudah dikosongkan serta pada salah satu ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit hewan rusa yang terlebih dulu dikeringkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Alat musik ini sering di mainkan sebagai istrumen musik tradisional dan sering juga dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. 

Tarian Tradisional Daerah Papua
Terdapat berbagai macam tari-tarian dan mereka biasa menyebutnya dengan Yosim Pancar (YOSPAN). Di dalam tarian ini terdapat aneka bentuk gerak tarian seperti tari Gale-gale, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo, tari Balada serta tari Cendrawasih. Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam berbagai kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat, penyambutan para turis asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah dalam upacara adat. 

Pakaian Adat Tradisional Papua
Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat tersebuta memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. 

Rumah Adat Papua
Nama rumah asli Papua adalah Honai yaitu rumah khas asli Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Bahan untuk membuat rumah Honai dari kayu dengan dan atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai memp
unyai pintu yang kecil dan tidak berjendela. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.

Mengenal Alat Musik Papua 


Orang Papua dikenal bersifat ekspresif. Mereka mengisi setiap momen penting dalam kehidupannya  dengan jiwa seni yang tinggi.

Selain berekspresi dengan seni ukirannya yang khas, mereka juga suka menari dan mendengarkan suara musik dari alat musik tradisional Papua.

Walau jenis alat musik tradisional Papua yang masih sering dipakai hingga saat ini mungkin tidak sebanyak dimasa lalu. Selain karena makin kurangnya minat generasi muda untuk melestarikannya, juga mungkin karena pengaruh masuknya budaya seni modern ke dalam kehidupan masyarakat Papua.

• Tifa
Alat musik tradisional Tifa ini, banyak digunakan oleh penduduk Papua dan Maluku. Bila diperhatikan sekilas Tifa  mirip dengan gendang. Dan dimainkan dengan cara dipukul pula. Tifa dibuat dari batang kayu yang dihilangkan isinya. Salah satu ujungnya lalu ditutupi menggunakan kulit binatang seperti kulit rusa. Kulit rusa ini telah mengalami proses pengeringan terlebih dahulu, agar bisa menghasilkan bunyi yang indah.

Tifa alat musik Papua1.jpg
 


• Triton
Berbeda dengan Tifa yang dipukul seperti gendang, Triton adalah alat musik tradisional Papua yang berupa alat tiup. Triton terdapat dihampir seluruh wilayah pantai seperti Kepulauan Raja Ampat, Biak, Teluk Wondama, Yapen Waropen, dan Nabire.

triton alat musik tiup papua - Copy.jpg

• Pikon
Pikon berasal dari kata pikonane. Dalam bahasa Baliem, Pikonane berarti alat musik bunyi. Alat ini terbuat dari sejenis bambu yang beruas-ruas dan berongga bernama Hite. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar, berupa do, mi dan sol.


Pikon alat musik wamena papua - Copy.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWOqHOgSK9WNC4-m_12tNUefwNn1qNw7owjTZc5MUpYnm4BRMj9_Tl8Tbq2V-UlRMZs_K7u_uHAb-3qAd3CKwB_NdbaqltPzWup_54J68beJ3J1yUHEFWAcxV7YHQk2_Nwe10KQBtw6OHd/s1600/3795323836_10a58944d9.jpg

Tata Cara Hidup Masyarakat Kota Manado

 

Tata cara hidup yang tradisional masyarakat Kota Manado adalah menyangkut kebiasaan hidup dan adat istiadatnya.
Kebiasan hidup dan adat istiadat masyarakat Kota Manado lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat daerah Minahasa, karena secara hukum adat Kota Manado adalah bagian dari Wilayah Minahasa.
Perkampungan
Pola perkampungan dari tiap-tiap kelurahan di wilayah Kota Manado pada umumnya terletak diatas tanah dataran, baik dataran tinggi maupun dataran rendah secara berkelompok padat. Kelurahan yang satu dengan kelurahan yang lainnya sambung-menyambung menjadi satu kesatuan mengikuti jalan raya maupun memanjang mengikuti jalan-jalan kecil dan juga lorong-lorong.
http://eddymesakh.files.wordpress.com/2009/10/kota-manado2.jpg?w=335&h=223
Penduduk Asli
Pembagian penduduk Kota Manado didasarkan atas kewarganegaraan, yaitu Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA). Penduduk asli Kota Manado terdiri dari delapan sub suku bangsa, yakni Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Toulour Tonsawang, Pasan atau Ratahan, Ponosakan, dan Bantik.
http://pesonamanado.files.wordpress.com/2009/06/penduduk-3.jpg?w=353&h=237
Penduduk Pendatang
Yang termasuk penduduk pendatang di Kota Manado, adalah orang asing seperti Portugis dan Spanyol yang keturunannya disebut orang Borgo Manado, Belanda yang disebut orang Endo Manado, Chines yang disebut orang Cina Manado, Arab yang disebut orang Arab Manado, Jepang serta India. Ada juga penduduk pendatang yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia, seperti dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan lain-lain.
Sistem Mata Pencaharian Hidup
Sistem mata pencaharian hidup masyarakat Kota Manado, seperti perikanan darat dan laut, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Namun rata-rata masyarakat Kota Manado mempunyai profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI dan POLRI, Pengusaha dan Karyawan, Buruh, Sopir, Tukang, dan Pembantu.
Sistem Teknologi Dan Perlengkapan Hidup
Sistem teknologi dan perlengkapan hidup masyarakat Kota Manado, yaitu alat-alat produksi seperti alat produksi rumah tangga yang terbuat dari tanah liat, tempurung, kayu dan bambu; alat-alat pertanian seperti pajeko, sisir, pacol, sekop, peda, tamako, sabit, pisau, dan lain-lain; alat-alat perikanan seperti perahu, perahu motor, pelang, soma, panah, tombak, jala, lampu petromax, nonae, sosoroka, dan lain-lain; alat-alat peternakan seperti sangkar ayam dan itik, pemotong rumput makanan kuda dan sapi, kandang babi, kandang kuda, dan lain-lain; alat-alat kerajinan seperti pemintal tali, penjahit atap, benang untuk membuat tali, martelu, peda, pisau, dan lain-lain; alat-alat distribusi dan transportasi seperti perhubungan darat yakni bendi, sepeda, sepeda motor, oplet, taxi, bus dan lain-lain, perhubungan lau yakni kapal motor, motor tempel, dan perahu; makanan dan minuman seperti beras dan lauk pauk sebagai makanan utama, ubi-ubian, pisang, dan buah-buahan sebagai makanan sampingan serta makanan dan minuman khusus seperti tinutuan (bubur Manado), daun pepaya, singkong, dan lain-lain serta minuman saguer selain air putih.
Pakaian Dan Perhiasan
Pakaian dan perhiasan masyarakat manado pada umumnya adalah buatan dalam negeri maupun luar negeri. Pakaian dan perhiasan tersebut bermacam-macam motifnya serta dibuat dari bermacam-macam bahan. Akan tetapi Kota Manado telah memiliki pakaian Khas Manado yang sering digunakan pada saat Pemilihan Nyong dan Nona Manado atau pada acara-acara khusus.http://manadoindo.files.wordpress.com/2009/07/nyong-nona-2004.jpg?w=330&h=247Rumah Tempat Tinggal
Rumah sebagai tempat tinggal dari masyarakat Kota Manado, disebut dengan istilah : Daseng yang terbuat dari  bahan bambu/kayu kecil dan biasanya dipergunakan untuk tempat mangaso; Sabuah yang terbuat dari bahan bambu/kayu dan biasanya dipergunakan sebagai tempat penginapan sementara; serta rumah tempat tinggal baik yang terbuat dari papan, semi parmanen, dan parmanen.

Sistem Kepercayaan
Masyarakat Kota Manado masih memiliki kepercayaan lama, yakni kepercayaan kepada dewa-dewa yang menghuni alam sekitar, seperti Opo Empung (Tuhan), Opo nenek moyang, Opo kerabat, mahluk-mahluk penghuni gunung, sungai, mata air, hutan, bawah tanah, pantai dan laut, hujan, dan mata amgin.
Selain itu ada juga kepercayaan yang berhubungan dengan mahluk halus lainnya, seperti mukur, pontianak, setang mangiung-ngiung, pok-pok, panunggu, jin, dan lulu.
Kesusastraan Suci
Kesusastraan suci berupa  Masambo dalam bentuk syair guna meminta doa, meminta makanan, naik rumah baru, dan perkawinan.
Sistem Pengetahuan
Yang berhubungan dengan alam fauna, yakni tanda-tanda bunyi burung dan tanda-tanda melihat binatang yang merupakan tanda baik dan juga buruk bagi orang yang mendengar dan melihatnya; Yang berhubungan dengan alam flora, yakni makanan dan minuman, kebutuhan pengobatan, menentukan batas tanah, legenda asal usul, dan kepentingan bahan bangunan; Yang berkaitan dengan tubuh manusia, yakni menyangkut perbuatan terutama berupa larangan juga berupa mimpi.
Sistem Pengetahuan Tentang Alam
Seperti melihat bintang, maka sudah boleh menanam; tak seorangpun akan menanam atau memetik/mengambil tumbuh-tumbuhan bilamana di siang hari bulan masih tampak; bila awan dilangit kelihatan berpetak-petak tandanya banyak ikan dilaut; bila terdengar segerombolan lebah terbang dari arah utara menuju selatan, alamat akan terjadi musim kemarau yang panjang; bila terjadi angin ribut, hujan keras dan banjir tandanya telah terjadi sesuatu yang melanggar norma kesusilaan.
Pengetahuan Tentang Waktu
Melihat matahari mulai terbit berarti sudah jam enam pagi, matahari diatas kepala sudah jam dua belas siang, dan matahari masuk tandanya sudah jam enam sore. Mendengar ayam berkokok tengah malam tandanya sudah jam dua belas tengah malam, berkokok selanjutnya alamat sudah hampir siang atau jam tiga pagi, dan berkokok tak putus-putusnya alamat sudah akan pagi.





http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=_MBXD3lwDns
http://gambaronline.com/images/2010/10/rumah-adat-papua.jpg
Rumah Adat Papua (Honai)
Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut wamai}


FOTO ADAT PAPUA